Shoting di Kampung Marketer, Purbalingga. (Bag. 1)
Hai, saya Tory. Saya suka jalan-jalan dan suka menyendiri.
Tapi bukan anti sosial ya? Saya hanya suka sepi. Menulis adalah salah satu hobi
saya, buku pertama saya adalah Mencari Sebuah Titik. Terbit tahun 2015 lalu.
Saat ini saya sedang menjadi asisten penulis dan pengelola Kedai Kata, Kedai
Kata adalah sebuah kafe di desa yang bisa melayani curhat setiap pengunjungnya.
Saat ini memasuki tahun kedua, baik bagi saya ataupun usia di Kedai Kata.
Dan ini adalah cerita tentang hobi saya yang lain, tentang
videografi dan fotografi.
Ini adalah perjalanan pertama saya ke Kabupaten Purbalingga,
Jawa Tengah. Sebuah perjalanan senang-senang dengan misi belajar dan liputan.
Lebih khusus lagi, liputan ini kami gunakan untuk mengikuti kompetisi video
yang yang diselenggarakan kumparan dan BNI Taplus. Total hadiahnya 50 juta
rupiah!
Nah, sebelum rencana perjalanan ini kami buat. Saya dan
Hammam, lagi-lagi ngobrol di WA. Ini lama banget nggak ngobrol dan nggak bikin
proyek bareng. Ya setahun kurang lebih setelah dari lomba tahun lalu. Akhirnya
kita kontakan lagi. Cheerss..
Dia ngirim link ke WA, saya baca dan saya pelajari.
Hadiahnya gede cuy! Apalagi kondisi Kedai Kata waktu itu kurang bagus. Melihat
syarat dan ketentuan masih sangat memungkinkan untuk mengikuti. Secara
persiapan, ini lebih panjang dibanding dengan persiapan tahun lalu. Sekarang,
kami punya waktu kurang lebih seminggu. Termasuk dalam membuat skrip, perjalanan
PP dari Solo ke Purbalingga, Syuting, Wawancara, Bikin naskah, editing dan
unggah. Karena proses registrasinya lewar platform Youtube dan Kumparan.
31 Maret 2018, Hamam mengirim pesan di WA, mengabarkan kabar dan juga
mengirm link kompetisi review video dan lanjut diskusi membicarakan apa yang
perlu dibicarakan, antara lain adalah siapa yang akan diulas, kapan akan
memulai mengerjakan, dan hal lain terkait proyek mendadak ini. Baru sehari
kemudian kita ketemu dan ngobrol lebih banyak lagi. Dan satu hal penting adalah
deadline kompetisi ini adalah seminggu dari info yang kami ketahui, 7 April
2018.
2 April 2018, kami sepakat untuk mengerjakan mas Nofi Bayu Darmawan, Pemuda desa asal Kabupaten Purbalingga sebagai target ulasan kami.
Dengan berbagai pertimbangan yang telah kami pilih dan kami sesuaikan dengan
syarata dan ketentuan panitia.
3 April 2018, kami mendapat konfirmasi dari Mas Bayu. Jika
beliau setuju menjadi narasumber kami. Yeah! Langkah selanjutnya adalah
merencanakan perjalanan. Sebelumnya kami sempat rancu, sulit membedakan
Purbalingga dan Probolinggo. Padahal secara pengucapan dan secara daerah sudah
beda jauh. setelah mempertimbangkan dengan waktu, tenaga, target dan barang
bawaan yang akan kami bawa. Akhirnya kami memutuskan berangkat dengan armada
sendiri melalui jalur Boyolali – Salatiga – Temanggung – Parakan – dan
seterusnya hingga Purbalingga.
4 April 2018, kami
berangkat ke Purbalingga sekitar pukul dua siang. Normalnya, kami bisa menempuh
perjalanan itu dengan 5 jam lebih sedikit. Tapi, berhubung di tengah perjalanan
kami sinyal internet nggak ada sehingga sinyal GPS pada gawai kami nggak bisa
nyambung, nggak nanya ke penduduk karena gengsi, males turun mobil dan beberapa
pertimbangan lain, misalnya kami masih bisa mengikuti jalan yang sesuai dengan
maps. Setelah merasa sudah keluar dan sudah sejalan dengan yang akan kami tuju.
Kami baru nanya ke penduduk, sekalian beli paket data yang ada sinyalnya di
sana. Eh ternyta, pilihan kami keliru, kami salah jalan dan cukup jauh. bahkan
hingga satu jam. Akhirnya kami memutuskan balik lagi, sesuai dengan petunjuk
yang kami bertanya setelah kami bertanya. Ini sangat nggak disarankan untuk
temen-temen yang bepergian. Selalu bertanyalah kepada penduduk sekitar, GPS.
Gunakan Penduduk Sekitar yang selalu akan ada sinyal di manapun Anda berada.
Agar, perjalanan Anda aman, efektif dan tentu hemat waktu, tenaga dan biaya.
Biarkan kebodohan dan keteledoran menjadi milik kami.
Ada hal menarik lain dalam perjalanan kami, terlepas dari
kami yang tersesat dan akhirnya malah menjauh itu. Malam itu, kami melewati
jalan yang sama hingga dua kali. Aneh tapi nyata. Padahal, perasaan kami, kami
melewati jalan yang sama seperti tergambar di gmaps. Meskipun tanpa sinyal
internet yang memadai.
Kami tahu hal itu setelah kami kembali dari jalan yang
tersesat tadi, di persimpangan yang sama, seharusnya kami belok kiri. Tetapi,
kami malah lurus. Begitu pun kami melakukannya dengan sangat pede, tapi ya
setengah deg-degan karena kami membelah hutan, jalanan sempit, nggak ada lampu
jalan dan tentu kam terasing. Beruntung, mobil yang kami kendarai bahan
bakarnya masih banyak. Jadi kami sedikit lebih tenang.
Bersambung...
Ini beberapa video yang sempat kami ambil di sana menggunakan DJI Osmonya mas Nofi Bayu Darmawan

Komentar
Posting Komentar