DUA PEMIMPI (bag. 1)
"Hei.. kalian kembar?"
"Hei.. kalian kakak-adek?"
Dua kalimat yang selalu saya dengar ketika bersama Zuhri. Sahabatku.
Kita bertemu di Magistra Utama Solo. Saya adalah peserta program pendidikan satu tahun, 2008 lalu. Sebuah tempat bermimpi dan berani untuk mewujudkan mimpi.
Tulisan ini untuk mengenang kembali perjalanan kami. Berdua. Mulai dari bagaimana awal kami berkenalan hingga semalam, untuk kesekian kalinya. Kami menyempatkan diri untuk bertemu. Ngobrol sesuatu yang kadang nggak penting, meskipun ujungnya tetap sama. Jadi wadah curhat.
Kami nggak sadar kalau kami adalah 'kembar'. Sampai ketika beberapa teman dan instruktur mengatakan hal yang sama. "Kalian kembar?" Dengan muka aneh mereka. Lalu kami saling tatap dan tertawa, "Jika ada lagi yang bilang,dapat piring cantik!". Itu kelakar kami.
Dua temanku selain Zuhri yang sama-sama berjuang pada lembaga yang sama adalah Ngatman dan Haryanto. Kami berempat pernah tinggal di satu masjid yang sama, makan dengan nasi putih dan lauk bakwan. Padahal waktu itu kami sedang berpuasa. Ngatman ini suka wayang. Di manapun ada wayang, dia pasti tahu. Meskipun, saya sendiri nggak yakin kalau dia bakal nonton. Yang pasti, radio ia setel itu. Lain Ngatman lain pula Haryanto, di lembaga ini. Dia yang paling senior. Idenya cemerlang dan tentu, diplomatis, dewasa dan bijaksana. Ngayomi anggota organisasi yang dipimpinnya.
Kami berempat pernah ikut seleksi tes pekerjaan sama-sama. Dari kami berempat, hanya saya dan Zuhri yang lolos tahap wawancara. Emang dari dulu udah suka khayal, bermimpi dan bermutu besar. Setelah selesai tes tertulis, saya dan Zuhri berkelakar di kelas. "HAYO, SIAPA YANG IKUT KE PASURUAN?"
Pasuruan adalah tempat perusahan impian kami ada. Untung, dulu Zuhri 'maksa' saya untuk ikut ke Jogjakarta. Untuk ikut tes seleksi. Matur suwun, Zuh. Ini tiba-tiba jadi ingat pas kamu ngajakin aku ke Jogja. Meskipun nggak ada niatan untuk ikut tes.
Akhirnya kami berdua lolos wawancara dan lolos ke Pasuruan untuk tes kesehatan. Menurut informasi, kalau udah ke Pasuruan. Bearti udah jelas keterima. Kami senang. Kami bersyukur. Akhirnya mulut besar ini ada manfaatnya. Hahaha
Drama setelah tes wawancara adalah kami hujan-hujanan Sepanjang jalan Timoho Jogja hingga kota solo. Naik motor, nggak pakai jas hujan. Nggak pakai jaket. Bayangkeun.
Gigil dingin kami, terobati dengan semangkuk mie ayam yang sampai saat ini, jika sempat dan pas ingin makan mie ayam. Warung mie ayam ini yang jadi alternatif.
Dan perjalan petualangan tentang hidup, mimpi, cita-cita, kuliah jadi penulis, jadi masinis, sesekali mempelajari MLM, main ke kota Malang, futsal, makan bareng, jatuh cinta dan segala intrik dalam hidup kami mulai dari sana.
Zuhri rela bolak-balik pulang Pasuruan-Purwodadi demi ketemu orang tuanya dan nyalon lurah. Diam-diam juga, ia sudah menyiapkan berkas untuk melamar di KAI. Tempat di mana ia sekarang bekerja dan mengapdi.
Kami berjanji, bahwa 2015 nanti. Kita bakal bertemu di bawah Monas Jakarta. Saya sebagai penulis. Zuhri sebagai Masinis. Sebuah mimpi yang entah bagaimana cara mencapainya.
2010/2011, Zuhri sudah mulai bekerja di PT. KAI. Saya bekerja di Magistra Utama. Satu tahap mimpi kami jalani sama-sama, meski di tempat yang berbeda. Kami pengen sama-sama kuliah. Akhirnya, 2012 saya mendaftar diri sebagai Mahasiswa. Berselang setahun atau dua tahun kemudian, Zuhri menyusul. Kita sama-sama kuliah. Satu daftar mimpi kami tercapai lagi.
Mimpi kami selalu menyala. Di manapun dan kapanpun.
2013/2014, kami ketemu kembali di Purwodadi setelah sekian lama nggak bertemu. Kebetulan waktu itu pekerjaan saya ada di banyak kota. Jadi pemasar buku. Salah satunya adalah Purwodadi. Sebagaimana tradisi kami berdua, kami bertemu.
Zuhri sebentar lagi jadi masinis. Mungkin tinggal beberapa bulan lagi. Dan saya, detik-detik menjadi 'penulis' Alhamdulillah juga sudah ada. Catatan-catatan yang dulu berserakan, sekarang dilirik media. Lebih tepatnya, saya dibantu Cak Aep untuk ketemu dengan penerbit Quan*ta.
September 2015, buku pertama saya lahir. Membawa kabar gembira dan membanggakan. Pada saat itu, saya berada di satu titik di mana apa yang perlu saya lakukan? Akhirnya promosi dengan apa yang bisa saya buat.
Desember 2015, Zuhri menikah. Sebagaimana target yang telah ia buat. Dan, Alhamdulillah, menikah dengan seorang yang menurut cerita Zuhri, unik.
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar