Shoting di Kampung Marketer, Purbalingga (Bag. 2)

Setelah menempuh perjalanan lebih dari 8 – 9  jam, akhirnya kami sampai di lokasi. Kampung Marketer. Sebuah rumah besar berwarna abu-abu, menyambut kami. Kami disambut oleh tuan rumah dengan sangat ramah, kami dijamu makan malam ramah tamah, sebelum akhirnya kami istirahat. Sebagai persiapan besok kita baru akan memulai pengambilan gambar.

5 April 2018, kami sudah di rumah Mas Nofi. Pemilik Kampung Marketer. Masih muda, jenggotnya tipis menjuntai, kaosnya “I AM MAKE MONEY WITH FB”, di ruang bawah tanah rumahnya kami berdiskusi tentang alur yang akan kami bawa. Pertama kali datang ke rumah beliau, kesan saya adalah ini orang pemiliknya imannya kuat. Nggak tahu itu muncul begitu saja dalam hati. Rumah ini dikelilingi sawah dan perbukitan yang amat sangat hijau. Kebetulan, waktu itu baru masa tanam. Mungkin baru berumur dua minggu atau lebih. Beberapa petak sawah sudah di panen.
Setelah sarapan, kami memulai hari itu dengan priper semua perlengkapan. Sembari menanti matahari terbit, saya memilih untuk mandi. Hamam mengabadikan momen langka itu. Setelah sarapan dan briefing, kami mulai menata semua perlengkapan yang kami butuhkan. Saya kebagian dalam hal narasi dan menjadi asisten kamera mungkin sekaligus asisten sutradara. Video ini adalah kombinasi pemikiran saya dan hamam. Alhamdulillah, sejak pertama kali kolaborasi dengan hamam, saya bisa menyalurkan ide dan hamam bisa mengeksekusi dengan baik. Ditambah hasil editing yang ciamik.

Dan nggak kalah penting adalah, saya merangkap sebagai wardrope. Kami hanya berdua. Jadi kami bagi tugas apa yang memang bisa kita kerjakan. Sesuai dengan pemahaman dan kompetensi yang kita miliki. Jika urusan teknis, ide, dan naskah/narasi. Saya masih bisa ikut serta dan turun tangan langsung. Tapi, kalau udah urusan editing, shoting, itu menjadi bagiannya hamam. Karena dia memang yang lebih baik.

Hari pertama, kami fokus kepada apa yang bisa diceritakan di sekitar rumah/kantor mas Nofi. Tentang siapa mas Nofi, kapan beliau mengawali, bagaimana kisah awal perjalanan kampung marketer itu sendiri dan latar belakang mas Nofi. Perlu kamu tahu, Kampung Marketer adalah layanan penyedia jasa customer service bagi pebisnis online. Waktu kami buat, ada sekitar 250 pemuda yang tergabung dalam KM dan akan masih terus berlanjut hingga sekarang. Update terakhir kami, sudah menjadi 350 pemuda yang tergabung dalam KM. Kedepan, akan ada 1000 pemuda yang akan dibantu dan dibina untuk menjadi ahli dalam bidang teknologi. Sehingga, akan ada perputaran milyaran rupiah yang akan di bawa dari kota ke desa. Ini yang menjadi cita-cita mas Nofi melalui KM.

Beruntungnya lagi adalah kami di support dengan berbagai alat yang ada di KM, DJI OSMO dan Drone Phantom yang baru kali itu kami pegang! Hahaha.

Jadi, kami benar-benar sangat dibantu dalam hal pembuatan video. Setelah selesai dalam hal narasi dan deskripsi, kami menambah footage-footage di hari berikutnya. Footage yang akan menambah jalan cerita semakin bulat dan enak untuk dikonsumsi. Narasi yang jelas, video yang matang, juga tokoh yang mengkombinasikan antara teknologi dan inovasi adalah kunci dalam kompetisi kali ini.
Ini adalah pengalaman pertama, membuat video di luar kota. Dengan alat yang saya kira sudah cukup memadai, padahal, ternyata ada alat yang masih sangat kompleks lagi dalam pembuatan film atau video. Nanti saya ceritakan di lain waktu.

Seperti kata hamam, karena perjalanan jauh, jadi perlu totalitas dalam mengerjakan. Makanya, alatnya yang total juga. Saya setuju. Saya tersenyum mendengar ungkapan itu.

Dua hari sudah kami di sana, dua hari yang bagi kami cukup melelahkan karena perjalanan berjam-jam. Waktu syuting yang sedikit dan tidur yang sebentar. Tapi, kami sangat bersyukur karena selain dari mas Nofi yang sangat memanjakan kami dengan menyediakan makan setiap 3 kali sehari, juga dibantu crew dari KM marketer yang kooperatif. Hal yang kami syukuri selainny adalah kami bisa belajar, 1. Nyari uang nggak harus ke kota, kalau kita bisa mengolah dan memanfaatkan kemampuan kita. Tempat bukanlah halangan, 2. Kami bersyukur, karena kami cukup besabar dan nggak buru-buru untuk segera menyelesaikan proyek ini. Meskipun deadline sudah di depan mata, 3. Kami belajar, bagaimana menghasilkan uang di era digital ini. Bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat dengan orang lain dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang nggak memandang pendidikan, dan 4. Kami juga belajar, bahwa kemauan akan senantiasa membukakan jalan.

Kami akhirnya pulang, setelah memastikan semuanya cukup. Bahan, editing awal, juga hal-hal lain. Selepas ashar kami pulang, besok masih lanjut editing. Khususnya untuk hamam. Tugas saya selanjutnya adalah percaya sepenuhnya terhadap hamam untuk editing dan proses uploadnya. Sambil senantiasa, berdebar menanti hasilnya.

Setelah lima menanti dengan harap-harap cemas, akhirnya pengumuman kami terima. Sudah kami prediksi kalau kami bakal mendapat hasil yang terbaik, terbaik dari yang terbaik. Berdebar kami dibuatnya. Sudah seharian pas tanggal 12 April lalu kami menanti. Akhirnya.. yang dinanti-nanti keluar juga. 
Pengumuman Juara Video Kompetisi, Kami Juara Satu*





 Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DUA PEMIMPI (bag. 1)

Gara-gara Gus Dur (Bagian 1)