Gara-gara Gus Dur (Bagian 1)

Ini hari Ramadan ke berapa? 24, malam ke-25 ya? Hokay. Di kesempatan ini, saya mau cerita soal beberapa hal yang belum saya simpan. Mumpung belum lupa. Ada rentetan kejadian dan peristiwa yang layak untuk ditulis. 

Pertama, lomba video kompetisi yang diselenggarakan Kumparan dan BNI TAPLUS denga total hadiah 50 juta. Dan video kompetisi yang diselenggarakan oleh SCTV dengan hadiah ratusan juta rupiah. Dan ketiga adalah pertemuan saya dengan Agung BH. 

Mana yang lebih dulu sebaiknya saya ceritakan? Karena nanti juga bakal ada cerita lagi selama Ramadan ini. Soal perjalanan ke Jakarta beberapa hari lalu. Yang akhirnya mendapat intisari dari beberapa kegelisahan saya. Yawes saya nggak ngerti bakal menjangkau semua atau sebagian dari
Bentar, pada rindu nggak sih sama ini blog? Maaf yang sudah mencari-cari. Karena bulan februari lalu, blog ini barusaja mengganti nama menjadi rumahtory.blogspot.co.id, ya sebagaimana rumah, blog ini juga tempat saya pulang, tempat menaruh barang-barang, tempat curhat (tentu), tempat untuk semedi, tempat berkumpul, tempat bercengkerama, ngobrol, dan jelas, tempat untuk bercinta. Eh tapi, bercinta dengan siapa? Masih belum menikah. 

Saya tahu kok, tiap orang punya pandangan sendiri mengenai rumah. Dan mengartikan rumah itu juga berbeda. Itu hanya sebagai awal. Nanti, kalau berkembang ya, syukur. Rumah ini masih belum banyak isinya. Kecuali, barang bawaan dari rumah yang dulu. Tahu kan? Kenapa diganti? Iya karena pengen dan butuh. Kok nggak bikin yang baru? Iya, baru nggak kepikiran juga. Tapi, kemudian berpikir lagi, mengganti alamat ternyata lebih baik. Meskpun, di gugel belum seterkenal dulu. Hahaha.. (memang yang dulu terkenal?)

Ngomong-ngomong soal nama, jadi ingat kan, kalau saya juga ganti nama. Tapi, ini sudah saya ceritakan di sini. Di postingan sebelumnya. 

Bentar, mana dulu ini yang mau diceritain? Kalau rentan waktunya, pertemuan dengan pak Agung BH. Ini yang fenomenal, menggilitik, seru, aneh sekaligus ajaib. Okay, saya mulai cerita dari pertemuan ini dulu.

Medio maret 2018, saya ke Jogja untuk membantu kegiatan provokasi. Ini pertama kali saya terlibat dalam kepanitiaan. Sebelumnya, setahun lalu. Saya adalah peserta dari pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu. Dan maret lalu itu, akhirnya jadi panitia juga. Khusus ini tentu saya 
menyampaikan terima kasih kepada mas Inunk Apner yang memberi kesempatan untuk membantu. Juga kepada Mbak Nur Eka dan Arin yang telah mengijinkan saya untuk gabung di tim panitia.
Karena perantara mas Inunk juga, akhirnya saya bisa jemput Pak Pras. Iya, saya kagum. Darimana kekaguman saya muncul. Awalnya dari percakapan yang saya lakukan dengan Mas AEP, lalu saya kepoin web beliau, lanjut ke buku lalu terakhir dengan mengikuti kelas yang berlangsung di Jogja pada media Mei 2017 lalu. Untuk pertama kali, bisa ngirim pesan pribadi ke Pras. Canggung juga, tahu sendiri, semua yang pertama itu memang begitu. Bahkan bisa bingung mau memulai dari mana. Tapi, ya sebagaimana yang lain, setelah canggung akan berubah menjadi hangat, lalu biasa, dan akhirnya terbiasa. Hampir tidak ada sekat. Sama, kalau kamu PDKT juga begitu kan? Mau milih topik saja sampai nggak tahu. Baru setelah berhasil mendapat, lha bisa kehilangan atau kehabisan topik. 

Pak Pras sudah saya antar ke hotel. Kami lanjut makan sate klatak. Sate yang dulu hanya ada di imajinasi saja. Sekarang, alhamdulillah, beberapa kali sudah merasakannya. Ya sama pak Pras. Kalau dulu, pengennya selalu bertanya soal provokasi. Sekarang, sudah bisa mengatur dan ndak selalu memaksakan untuk ngobrol soal provokasi dan seluk beluknya. Alamaih. Mengalir. Kalau waktunya diem, ya diem. Begitu, kan, yang lebih baik? 

Saya jadi ingat, waktu Ramadan 1438 H. Sewaktu saya ikut buka bersama di Rotella Coffe Corner, kediaman Pak Pras dan Bu Uti. Buka bersama tahun lalu itu selang beberapa bulan dari kelas provokasi yang saya ikuti. Saya ditanyai, “Bagaimana? Sudah sampai mana?”. Waktu itu saya diliputi beberapa keraguan. Karena permainan harapan dan spekulasi dari otak saya. Bagaimana jika ini dan itu. Apakah benar dia mencintaiku? Apakah dia bakal menerimaku? Dan beberapa pertanyaan pribadi yang hanya berani saya tanyakan secara pribadi. 

Meski sebetulnya nggak ada niat untuk membicarakan topik waktu itu. Pertanyaan itu yang akhirnya membuat saya bercerita situasi waktu itu. Dan, sudah setahun dari pertemuan itu. Sekarang masih belum bisa ditarik kejelasannya. Gimana ya? Menurutnya, saya belum siap. Terus kesiapan yang seperti apa yang ia harapkan? Yasudah, saya mengambil sikap yang menurut saya itu lebih baik dari pada nggak bersikap. Yaitu, saya tetap menjalani. Saya tetap bersama dia. Menjaga cita-cita dan niat. Meskipun ya masih sama. Dia hanya butuh diyakinkan, tapi keyakinan apa yang ia minta. Saya masih belum tahu. Dia hanya berpesan, beritahu aku tentang mau bagaimana nanti. Tentang tempat tinggal, tentang kendaraan, tentang pekerjaan, tentang apapun yang membuatku yakin. Katanya begitu.
Saya pernah menyatakan keinginan saya sama dia sebanyak tiga kali. Baik yang ala-ala sinetron atau yang sekadarnya. Dan ketiganya saya ditolak. Ada yang ditolak langsung ada yang jeda beberapa waktu. 

Eh ini kok jadi kemana-mana sih, ceritanya?

Nggakpapa ya? Saya udah lama banget nggak nulis soalnya. 

Udah segitu dulu cerita tentang doi. Ntar kalau saya mau, saya legawa untuk cerita, ya cerita. Perkara kalian tahu siapa dia atau tidak itu nomor dua. Saya hanya berbagi dan saya nggak nyebut merk, syukur ada manfaat dari cerita yang saya tulis di sini. Jadi sejarah, kan? Ya sejarah diri sendiri to, siapa lagi kalau bukan diri kita yang menulis?

Nah, soal pertemuan dengan pak Agung. Semua persiapan sudah dilakukan, tibalah hari H. Hari pertama. Para peserta berkenalan satu sama lain. Dari berbagai kalangan dan profesi. Saya nggak nyimak secara penuh. Sesekali saya menyimak materi yang disampaikan pak Pras. Kebetulan, ada mbak Eva, Mbak Fera dan mas Anu (maaf lupa namamu, mas) yang seangkatan dan ikut re-seat. Ternyata, penyajian kelas tahun 2018 dengan 2017 lalu berbeda. Dan memang, kalau saya pikir, saya lebih cocok dengan kelas yang 2017. Saya rindu kalian. Kapan-kapan kita ketemu yuk!

Selepas sesi satu, Arin, bertanya kepada saya, kenal sama pak Agung nggak? Tahu nggak? Ngerti kalau dia jualan di Pasar klewer nggak? Saya nggak tahu sama sekali. Saya ulang beberapa kali kalau saya memang nggak kenal sama Pak Agung. Lha emang nggak kenal beneran. Gimana? Arin heran. Kok sampai nggak kenal.

Dia melanjutkan cerita lagi, saya mengulik beberapa hal, gimana Arin bisa ketemu (dan akhirnya menjadi peserta kelas provokasi). Katanya, pak Agung pernah ikut kelas Face Reading. Kelas yang disampaikan oleh Pak Pras juga. Dari sana, pak Agun ikut provokasi. Arin bilang, teman-temannya pada heran. Gimana kok bisa kontak dengan pak Agung? Dia ketawa nyengir. Sambil sedikit berbangga. Saya masih nggak ngerti pak Agung siapa. Samapi hari pertama selesai.
Dan keajaiban itu dimulai di sini. 

Saya membuka FB. Di halaman depan Fb, muncul pengumuman jika ada Eka Kurniawan di Jogja. Akan ada acara ‘tauisyah’ sastra di Cafe Basabasi. Saya cek waktu, tanggal dan lokasi. Kohern. Cocok. Lurus. Bersinggungan. Saya buka gmaps. Loh, kok dekat. Yasudah, tancap sudah. Gas tipis-tipis, lur. 

Dijadwalkan acara mulai setengah delapan malam. Tapi, pas adzan isya berkumandang tempat itu sudah penuh berjubel para pembaca, penggema, tukang pencari tanda tangan yang ingin mendengar petuah dan daya magis Eka Kurniawan. Termasuk saya. Entah masuk dalam golongan yang mana. Mungkin golongan orang-orang yang kebetulan tahu dan mau. Karena nggak mau melewatkan momen berharga ini. Saya mendesak ke tengah. Nggak puas, saya melaju ke depan. Tepat di bawah meja di bawah Eka Kurniawan. 

Saya lihat, di meja sebelah kiri ada beberap orang yang saya tahu, Mas GTA, Pak Edy, Mas Reza Nufa dan beberapa yang yang entah siapa saya lupa. Oh, mas Kian Santang. Yang sekaligus menjadi moderator acara malam itu. Saya duduk lesehan bersama dengan beberapa orang yang serupa. Tak nampak kecewa, tak nampak protes. Mereka semua bahagia melihat sosok idolanya. Yang mungkin menemukan kepinginan dirinya di beberap cerita yang ditulis Eka Kurniawan. Saya sendiri baru membaca dua atau tiga buku Eka. Tapi sudah dibuat suka juga. Belum jatuh cinta. 

Jangan ditanya soal kemeriahan. Kamu bayangkan saja, ruanganya yang luasnya sekitar 25 x 10 meter dengan jajaran meja dan kursi berisi penuh sesak. Belum yang berdiri. Dan di balik tirai. Bahkan, Eka sendiri mengklaim bahwa malam itu menjadi salah satu acaranya dengan jumlah peserta terbanyak. Gimana? Sangar to?

Yang mengharukan adalah ketika sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab ini diberikan setelah Eka Kurniawan memaparkan esai yang ia bacakan sendiri. Penanya selalu euforia dan hampir gagal menguasai dirinya. Mereka senang, bahagia, dan mungkin nggak percaya dengan apa yang mereka alami. Berdiri di depan sosok idolanya dan bertanya langsung. Gemetar itu pasti. Jadi nggak ngerti mau menyusun pertanyaan dengan kalimat apa itu yang parah. “waduh saya gerogi” berulang kali dilontarkan penanya. Dan setiap itu keluar, sebanyak itu pula tawa pecah.

Saya ikut menenangkan sambil menggoda tentunya. Misalnya, menawarkan untuk minum dan menarik napas lebih dalam. Meskipun itu muskil. Karena perjumpaan dengan kekasih. Kerinduan itu terbayar dengan tuntas. Ini kok dari tadi saya jadi kebayang, gimana bahagianya bertemu dengan Nabi Musa dan Tuhan ya?

Ini saya segini dulu. Saya mau pulang. Saya lanjut segera. Kebetulan pas baterai juga mau habis dan juga sudah setengah sembilan. Atau kalau mau lanjut, silakan klik di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DUA PEMIMPI (bag. 1)

Shoting di Kampung Marketer, Purbalingga (Bag. 2)