Gara-gara Gusdur (bagian 2)

Ini bagian kedua dari cerita tentang pertemuan saya dengan Pak Agung BH. Kalau ketinggalan, ada di sini.

Saya tulis di H+4 Lebaran, 4 atau 5 syawal ya? Pokoknya itu. Saya kebelet. Pengen pipis. Dan merasa bahawa pemaparan dari Eka Kurniawan sudah cukup ditambah dengan beberapa pertanyaan yang saya simak, saya ikhlas meninggalkan majlis ilmu penting ini. Toh, saya masih bisa mendengar sayup-sayup dari balik pintu kamar kecil. Gemericik air kran menjadi pengiring sesi tanya jawab yang semakin riuh. Itu cafe sebenarnya ruanganya terbuka, tur ya lebar tenan. Tapi karena kapasitas makhluk yang malam itu pengen ketemu Eka Kurniawan sedang tinggi-tingginya, jadi sesak dan panas. Maka saya putuskan untuk melipir nyari kopi atau makanan di tempat yang sama. 

Tapi ya gitu, entah malam itu mungkin telah terjadi ketimpangan ekonomi. Di mana permintaan dan penawaran nggak seimbang. Yang melayani sama yang beli banyakan yang beli. Hal demikian mengakibatkan kopi yang kurindukan itu kuganti dengan air mineral karena nggak mau antri yang entah berapa. Mie goreng apalagi, akhirnya kuganti dengan roti dan camilan yang sekiranya bisa buat ngganjel perut yang dari siang belum makan lagi.

Memang murah itu cafe, terjangkau untuk kalangan mahasiswa tanggal tua sekalipun. Bakal santai dan pede nongkrong di sana. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah ada ‘menu gratis’ yang bisa diambil oleh siapa saja. Syaratnya? Syaratnya ada yang nyumbang nota lah. Jadi, kalau kalian lagi kaya atau merasa kaya, boleh menjadi donatur bagi fakir miskin dhuafa yang suka nongkrong tapi transferan belum datang atau penulis lepas yang belum cair honornya. Barangkali, itu sangat membantu dan sangat dibutuhkan oleh mereka yang membutuhkan. Paham nggak?

Nah, di dekat kasir dan tempat pesan itu, ada buku-buku yang berjubel. Eh nggak deng. Tapi intinya cukup lah, kalau mau baca dan pinjam gratis. Seingat saya, buku yang ada di sana adalah buku   terbitan dari basabasi dan buku-buku lain. Saya   nggak ingat. 

Kagumku   nggak habis-habis. Nggak tahu kenapa juga. Mungkin, karena kepengen juga kedai kata jadi seperti itu. Tapi, sesuai pesan beliau, pak Edy, selaku pemilik cafe itu, semua itu karena doa orang tua dan Allah... kalau tanpa mereka, itu muskil terjadi. Baik. Saya sepakat.

Yawes, kita lanjut. Saya nyari tempat duduk untuk ngemil dan minum, nyari clingak-clinguk nggak nemu-nemu. Akhirnya nemu di dekat pelapak buku dan kaos. Saya habiskan minum dan melihat beberapa buku. Judul dan sampul bukunya bagus-bagus. Bikin pengen borong. Di momen ini, bertemulah saya dengan seorang kawan fesbuk. Penulis, kurator dan editor di basabasi. Sebagai teman dunia maya yang baik, maka saya sapa. Saya apresiasi karya terbarunya. Sekalian beli dan minta tanda tangan dan foto. 

Kenapa? Karena itu bentuk apresiasi yang saya berikan. Pengen saja memberikan apresiasi begitu. Beberapa jalan pikirannya pun juga saya sepakat. Apalagi yang soal pernikahan. Begini katanya,.....
Nah, setelah puas bertukar pikiran dan nomor ponsel akhirnya saya melirik kaos. Ada kaos pram, kaos ernest hermingwey juga kaos yang entah siapa aku lupa. Yang jelas, akhirnya saya membeli kaos bergambar gusdur yang sedang duduk jegang, ngakak, di temani dengan secangkir blirik. Disamping tulisan itu ada tulisan “Gitu Aja Kok Repot!”. Waktu itu salah satu alesannya adalah karena warna kaosnya hitam, sablonnya juga bagus dan suak dengan kata-katanya. Agak nakal gimana gitu.

Sebenarnya masih ada drama juga dalam pemilihan kaos itu. Tapi, karena nggak terlalu penting. Jadi nggak usah saya ceritakan. Intinya saya pulang lebih awal dan membawa kaos itu.
Ini hari kedua pelatihan. Terserah kalian mau mengartikan bagaimana, kejadian selanjutnya adalah kaos itu saya pakai di hari kedua, karena kaos ganti yang saya bawa dari solo kebetulan ada di mobil panitia dan mobilnya dibawa sama mas Inunk pulang ke rumahnya. Saya sendiri bermalam di barat Jogjakarta, arah wates. Jauh dari jangkaaun. Kalau nggak ganti baju yang aneh, karena udah dipakai sejak semalam. 

Lagian ini forum santai, nggak mewajibkan panitia untuk tampil rapi dan berdasi. Melainkan sesuka hati. Mau kaosan juga nggakpapa. Itulah enaknya provokasi. 

Sesi hari kedua dimulai. Belum nampak tanda-tanda apapun. Semua berjalan begitu saja. Materi disampaikan, sesi demi sesi dilewati. Tibalah waktu makan siang. Saya makan setelah menunaikan dzuhur. Makan sesuai selera, minum secukupnya. Sesekali nyimak mas Arief RH dan Pak Pras yang sedang berdiskusi soal vibrasi. Waktu itu, mas Arief sedang ‘mempresentasikan’ kitab vibrasi yang barusan selesai beliau tulis dan menghadiahkan kitab itu untuk pak Pras. Saya nyimak dengan beberapa peserta lain.

Juga mendengarkan beberapa kawan peserta yang membahas tentang buku, penerbitan dan penulisan. Saya nyimak saja pokoknya. Meski sebetulnya gatel pengen komentar, untung saya berhasil menahan. 

Setelah cukup makan, minum, ngemi dan ngobrol dengan panitia dan beberapa peserta. Juga ditambah dengan sesi kedua akan segera dimulai, maka saya bergegas menuju lokasi workshop. Lhakok di ternyata sudah ada Pak Agung BH yang sedang menunggu lift terbuka. Saya sapa beliau, “Monggo pak Agung”. Yang belum tahu pak Agung, nanti saya ceritakan. Saya juga baru tahu, kenal dan menyapa ya baru ini. Sebetulnya sempat mau dikenalkan oleh Arin, tapi ya gimana, wong saya nggak tahu benaran. Sampai heran tujuh dunia dia. 

Setelah saya sapa dan dijawab dengan ramah oleh pak Agung dengan sangat santun, saya agak terkejut, ketika pak Agung bilang, “Suka Gus Dur juga?” saya senyum dan hehehehe saja. Lah gimana, saya baru makai kaos Gus Dur itu tadi pagi, belinya pun baru semalam. Itupun karena beberapa alasan yang saya sampaikan di atas. Alasan lain beli kaos Gus Dur adalah karena hanya itu yang sudah punya bukunya. Itupun karena dikasih juga.

Gimana? Mau kalian bilang kebetulan? Saya mah nggak mau nyebut itu.
Obrolan ringan itu pun berlanjut sampai di depan ruang workshop, beberapa kali pak Agung bertanya tentang saya dan saya ceritakan apa yang saya lakukan di sana juga peran yang saya dapatkan dalam event tersebut. Sampai akhirnya, Beliau mempersilakan saya untuk berkunjung ke rumahnya. 

WOW!

Ini rejeki! Kesempatan! Perlu dieksekusi dan diperjuangkan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DUA PEMIMPI (bag. 1)

Shoting di Kampung Marketer, Purbalingga (Bag. 2)

Gara-gara Gus Dur (Bagian 1)